Untuk Memenuhi Tugas Laporan Kuliah Lapangan Ilmu Dakwah
A. Apa itu Dolly?
Dolly atau
Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di
daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan
lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan
berdinding kaca mirip etalase.
Konon
lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong
di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan pernah terjadi
kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata
Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
B. Sejarah
Dolly
Sebagian besar
di seluruh negara tepatnya di kota-kota besar ada lokasi prostitusi. Termasuk
Indonesia, siapa tak kenal dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota
Surabaya, Jawa Timur.
Konon, Dolly
dilokalisasi pelacuran disebut-sebut yang terbesar se-Asia Tenggara.
Betapatidak, 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria
hidung belang kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly.
Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini
sekadar untuk memuaskan birahi.
Kendati
begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan kompleks
lokalisasi di negeri lain, misalnya; kawasan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan
Geylang di Singapura.
Lokalisasi ini
hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal
ketimbang kota Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun
kerap menyeberang ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang
dijajakan di Dolly.
Bicara soal
Dolly, tak banyak yang tahu tentang bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri
hingga bisa besar dan terkenal seperti sekarang.
Sejarah
mencatat, kawasan Dolly rupanya dahulu adalah tempat pemakaman warga Tionghoa
pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini disulap oleh seorang Noni
Belanda bernama Dolly sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri
kincir angin itu. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada
hingga kini malah tidak meneruskan bisnis esek-esek ini.
Sebagai
pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan
Sawahan, Kota Surabaya ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu
kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang
lokalisasi prostitusi tersebut.
Dalam beberapa
kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya
menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan
memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata
pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para
tentara untuk datang kembali.
Dalam
perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya
prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang
berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi
tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.
Dolly juga
menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat
lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus yang berjejer
rapi. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di
bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para
pengunjung.
Tidak hanya
itu, Dolly juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang
parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis
mutualisme.
Kisah lain
tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku
berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks
Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu
disebutkan dulu kawasan Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah
Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar tahun
1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam.
Makam China itu tertutup bagi jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindah
oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang mendapatkan tanah bekas makam itu,
baik dengan membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup
meratakan saja.
Setahun
kemudian, 1967, muncul seorang pelacur wanita bernama Dolly Khavit di kawasan
makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri
rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I.
Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat
wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal muasal nama Dolly.
Dolly semakin
berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana
semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat,
lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak.
Belakangan,
ramai dibicarakan bahwa tempat prostitusi ini bakal ditutup oleh pemerintah
setempat. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah satu aktor utama
yang ingin jika tempat-tempat lokalisasi di kawasan Surabaya ditutup.
Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang kian
menjadi akhir-akhir ini.
Pertanyaannya,
mampukah sang wali kota menutup Dolly? Pasalnya, Dolly juga diyakini menjadi
salah satu penyumbang APBD terbesar setiap bulannya bagi pemerintah Surabaya,
berkisar hingga puluhan miliar rupiah, uang yang masuk dari praktik haram itu
ke pemerintah daerah Surabaya.
C. Penutupan Dolly
Rabu 18 Juni
2014 adalah malam terakhir untuk Gang Dolly. Etalase kaca, yang biasa memajang
para pekerja seks komersial berpakaian minim, kosong dan gelap. Para mucikari
tak lagi sibuk bertransaksi dengan para tamu sambil memencet kalkulator.
Sementara, warga menutup rumah dan toko, khawatir kericuhan bakal terjadi.
Pada saat
bersamaan di Gedung Islamic Center
Surabaya -- yang jaraknya sekitar 1 km dari Dolly -- sejumlah pejabat penting
berkumpul. Di antaranya Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim
Soekarwo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Mereka secara resmi menutup
operasional lokalisasi yang konon terbesar se-Asia Tenggara yang lebih besar
daripada lokalisasi Geylang di Singapura dan Phat Pong di Thailand.
Para PSK dan
mucikari diberi bantuan untuk alih profesi. "Yang harus dipertahankan
adalah sesuatu hal positif, kalau tidak positif tidak perlu
dipertahankan," kata Mensos Salim Segaf Al Jufri dalam sambutannya.
Penutupan
Dolly yang beroperasi sejak 1967 lalu tak mudah. Diwarnai kontroversi sengit
dan penolakan baik dari PSK maupun mucikari.
Upaya yang
dilakukan Pemerintah Kota Surabaya juga menjadi sorotan dunia. Sejumlah media
asing ikut memberitakan.
Situs Radio
Australia hari ini, 19 Juni 2014 mengangkat artikel berjudul 'Sex workers
protest shutdown of Surabaya's "Dolly" red-light district', yang
menceritakan penentangan mereka yang mencari nafkah dari prostitusi atas
penutupan kawasan lampu merah di Kota Pahlawan.
"Aku
ingin melihat anak-anak ku sukses, dan hanya dengan itu aku bisa bahagia. Jadi,
jangan aku minta berhenti sekarang. Aku akan kembali ke jalan yang benar pada
saatnya nanti," kata Yuni, PSK 38 tahun yang mengaku mencari nafkah di
Dolly untuk membayai anak-anaknya sekolah.
Keberanian Tri
Rismahariani menutup lokalisasi Pekerja Seks Komersil (PSK) di wilayah yang
dikenal Gang Dolly, Surabaya menuai banyak apresiasi. Risma membeberkan
alasannya bahwa bagaimanapun Dolly harus ditutup.
Cerita Risma
itu dipaparkan dalam forum penganugerahan 'Tokoh Perubahan Republika' di
Ballroom Djakarta Theater, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis 30 April 2015
malam.
Risma mendapat
penghargaan karena keberhasilannya menutup lokalisasi Dolly dan membangun Kota
Surabaya dengan segala capaian baik tata kota, inovasi hingga penggunaan
teknologi informasi dalam pemerintahan.
"Saya tak
mungkin berdiri di depan bapak ibu sekalian karena sekali lagi penghargaan ini
merupakan penghargaan warga bagi Surabaya dan saya diberikan kepercayaan
menerima penghargaan ini," ucap Risma memulai kata sambutannya sambil
memegang piala penghargaan.
Risma
bercerita bahwa tidak mudah menjadi seorang pemimpin atau kepala daerah dengan
kondisi kota seperti Surabaya yang dulu perlu banyak pembenahan. Kota Pahlawan
itu dulu dianggap panas, kotor terutama soal terkenalnya lokalisasi Dolly.
"Kami
harus mengubah bersama-sama dengan seluruh warga Surabaya, sehingga Insya Allah
Surabaya menjadi kota yang nyaman, anak-anak kami mereka berhak tinggal di
Surabaya," ujarnya.
Mulailah Risma
bercerita soal alasannya ngotot harus menutup lokalisasi Dolly yang dianggap
terbesar di Asia Tenggara. "Saat saya tutup lokalisasi, dianggap karena
tekanan garis keras," ucap Risma dengan nada sedikit terbata.
"Yang
harus saya katakan bahwa kami ingin melindungi anak-anak kami dari kerusakan,
karena di lokalisasi itu identik dengan narkoba. Di kawasan lokalisasi itu
sebetulnya justru ada penindasan kepada kaum perempuan yang tinggal di
situ," nada suara mulai melantang.
"Di
kawasan lokalisasi juga banyak minuman keras! Trafficking! dan kami bisa
buktikan apa yang kami lakukan benar," lanjutnya.
Akhirnya,
meski mendapat pertentangan luar biasa dari masyarakat terutama beberapa pihak
yang selama ini diuntungkan dengan lokalisasi, Risma dengan berbagai cara mulai
pendekatan personal, hingga pendekatan kesejahteraan berhasil menutup Dolly.
"Saat ini
kami harus rawat korban lokalisasi yang bertahun-tahun di Surabaya, dan
anak-anak itu kini menjadi anak asuh pemerintah kota karena kita tidak tahu
siapa ibu dan ayahnya," kata Risma.
"Terimakasih
warga Surabaya yang membuat saya bisa berdiri di tempat terhormat ini,"
tutup Risma disambut tepuk tangan sekitar 500 orang termasuk pejabat yang
hadir.
Mereka yang
mendapat penghargaan adalah bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wali Kota
Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, inisiator gerakan
one day one juz Bhayu Subrata dan Pratama Widodo serta ketua umum PP
Muhammadiyah Din Syamsuddin.
D. Pasca Penutupan Dolly
Ribuan PSK,
mucikari di Gang Dolly dan Jarak mulai menerima kompensasi atas ditutupnya dua
lokalisasi tersebut. Pembagian kompensansi berlangsung hingga lima hari ke
depan di Markas Koramil Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur.
Pantauan
Okezone, penerima kompensasi sudah mengerumuni tempat tersebut sejak pukul
08.00 WIB, waktu dimulainya pembagian. Para PSK lebih banyak mengenakan penutup
wajah.
Dalam
penyerahan dana kompensasi tersebut, pantia membagi dua tempat untuk PSK dan
Mucikari. Data milik Pemkot Surabaya, terdapat 1.449 mucikari dan PSK yang
biasa beroperasi di Gang Dolly dan Jarak.
Pemkot
Surabaya memberi kompensasi Rp5 juta untuk tiap mucikari dan Rp5.050.000 untuk
pekerja seks komersil. Dana tersebut diperoleh Pemkot Surabaya dari Pemprov
Jawa Timur (untuk mucikari) dan Kementrian Sosial (untuk PSK).
"Total
dana untuk PSK dan mucikari adalah Rp7,317 miliar dari Kemensos dan Rp1,555
Miliar dari Pemrov Jatim," ujar Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini di
Surabaya, Kamis (19/6/2014).
Syarat untuk
mencairkan dana kompensasi yakni mucikari ataupun PSK harus menujukkan kartu
tanda penduduk (KTP). Setelah itu, petugas akan mencocokkan identitas mereka
dengan data yang ada. Untuk PSK, kompensasi diberikan dalam bentuk tabungan
sedangkan mucikari uang tunai.
Risma
berharap, para PSK dan mucikari menggunakan uang kompensasi tersebut untuk
modal usaha pasca-penutupan Dolly. Dia pun mendesak PSK dan mucikari untuk
segera mengambil dana kompensasi tersebut. "Dananya harus diambil, jika
tidak maka akan kembali ke kas negara," tegasnya.
Begitu
pembagian kompensasi tuntas, maka langkah selanjutnya adalah membangun tempat
tersebut sesuai dengan semangat deklarasi di Islamic Center.
E. Tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam penutupan
Upaya untuk
mencegah dampak negatif dari kegiatan prostitusi ini dilakukan melalui dakwah
secara humanis (tanpa pertumpahan darah) dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat
sekitar tempat lokalisasi. Tepat pada tanggal 13 April 2019 penulis melakukan
kuliah lapangan Ilmu Dakwah dengan judul “Dakwah Kontemporer dan
Enterpreneurship” ke tempat eks-lokalisasi dolly. Kuliah lapangan dilakukan di
masjid At-Taubah Kupang Gunung Timur/VII/41 Surabaya. Acara dimulai dengan
pembukaan, pembacaaan ayat suci Al- Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya
kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Takmir masjid dan diteruskan oleh
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag.
Dalam
sambutannya beliau memperkenalkan para tokoh satu-persatu dan tidak lupa
mendo’akan agar para tokoh yang berjasa dalam penutupan lokalisasi diberi
kebaikan dalam hidupnya. Beliau juga menyampaikan harapannya agar masjid
At-Taubah bisa menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitar lokalisasi.
Setelah sambutan dan sholawat barulah kemudian dilanjutkan oleh para pemateri
yang merupakan tokoh yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penutupan
lokalisasi prostitusi terbesar di Surabaya, berikut ini beberapa tokoh tersebut
:
1. Dr. H. A. Sunarto AS. MEI (Doktor
Prostitusi)
Sejak kecil
beliau dibesarkan di lingkungan prostitusi, maka dari itu beliau mempunyai
keinginan untuk merubah kebiasaan masyarakat sekitarnya, pada tahun 1980 saat
beliau keluar dari pondok tempatnya belajar, beliau langsung bergerak melakukan
dakwah secara individu. Kemudian pada tahun 2002 beliau menjaring kerjasama
melalui dakwah kelembagaan dengan berbagai elemen dan membentuk Forkemas (Forum
Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya) dan pada tahun 2010 beliau juga ditunjuk
menjadi Ketua umum IDIAL MUI Jatim. Beliau juga menulis disertasi dengan judul
“Kiai dan Prostitusi” yang merupakan hasil penelitiannya tentang dakwah Ust.
Khoirun Syuaib di lokalisasi, dari sinilah tercetus sebutan Doktor Prostitusi.
2. KH. Drs. Khoirun Syuaib (Kyai Prostitusi)
Beliau dikenal
sebagai kyai prostitusi. Beliau berdakwah sejak tahun 1980-an hingga saat ini.
Awalnya ia merasa ragu untuk berdakwah di sekitar rumahnya
(Bangunsari-Surabaya) karena kesempatan untuk berhasil sangat kecil sekali,
sebab jumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) di daerah tersebut mencapai 3000-an
pada masa itu, yang tersebar di 15 RT di Lokalisasi Bangunsari. Tak hanya itu
saja, saat itu beliau juga tengah melanjutkan pendidikannya di S1 Fakultas
Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya (dulunya IAIN).
3. H. Sunarto Sholahudin (Penyumbang Logistik
Lahir di desa
kecil Menganti Gresik Desa Lampah, karena dari keluarga yang kurang mampu pada
saat umur 5-6 beliau menjual gorengan keliling kampung. Akibat himpitan ekonomi
kemudian beliau mengadu nasib ke Surabaya dan sempat bekerja menjadi pelayan
restoran. Karena semangat kegigihan,
kerja keras, sikap pantang menyerahnya dan munajatnya kepada Allah SWT akhirnya
beliau meraih kesuksesan sebagai pengusaha dan mendirikan PT. BAL (Berkah Aneka
Laut) yang saat ini sudah mempunyai 50 kapal penangkap ikan dan sedang
mendirikan Cold Storage di Probolinggo dengan kapasitas 6 ton ikan segar.
4. H. Gatot Subiantoro (Mantan preman
lokalisasi)
Beliau lahir
di Surabaya pada 9 Januari 1961, bertempat tinggal di Dupak Bangunsari II no 22
Surabaya. Dulunya beliau merupakan mantan preman lokalisasi yang mempunyai
kebiasaan mabuk-mabukan setiap malamnya. Beliau juga sangat mengetahui seluk
beluk seluruh lokalisasi prostitusi, beliaulah yang mengatur, menggiring serta
memasok keluar masuknya para PSK di setiap lokalisasi. Beliau sering mendapat
bingkisan makanan dari Ust. Khorirun Syuaib setelah pengajian atau ceramah dan
beliau juga di dapuk sebagai panitia kurban, seiring dengan berjalannya waktu
karena sogokan makan dan sering berkumpul dengan Ust. Khoirun Syuaib akhirnya
beliau mendapat hidayah untuk bertaubat. Sekarang beliau merupakan Humas IDIAL
MUI Jatim yang bertugas untuk terjun langsung mengawasi tempat lokalisasi.
5. Ust. Ngadimin Wahab (Takmir masjid)
Lelaki paruh
baya yang akrab dengan sebutan Abah Petruk ini merupakan takmir masjid
At-Taubah (dulunya musollah Al-Huda) sejak tahun 80-an sampai sekarang. Beliau
disebut juga dengan Kiai Sembur karena suka menyembur dengan angin do’a, beliau
sering menyembuhkan orang kesurupan dan black magic.
F. Dakwah pada Masyarakat Lokalisasi
1. Pendakwah
Beliau, KH.
Khoirun Syuaib adalah seorang pendakwah
sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Khoir yang beralamat di Jl.
Bangunsari IV / 7A Surabaya yang
merupakan salah satu basis penyebaran Islam ditengah masyarakat PSK
(Pekerja Seks Komersial). Lahir pada tanggal 17 Agustus 1959 di Desa
Bangunsari, Surabaya.
Dilihat dari
segi penyampaian dakwahnya, KH. Khoirun Syuaib masuk dalam kategori Pendakwah
Muttabi’ yang mana ia hanya menyampaikan produk pemikiran pendakwah mujtahid
(pendakwah yang mampu mencurahkan
pemikiran dalam menggali pemahaman langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah).
Untuk
melancarkan dakwahnya langkah pertama yang dilakukan KH. Khirun Syuaib adalah
dengan melakukan pendekatan terhadap para perangkat Kelurahan Dupak RW 04
Bangunsari. Hal ini dilakukan karena peranan perangkat kelurahan waktu itu
sangat dominan dan setiap keputusannya akan diikuti oleh PSK dan mucikari.
Pendekatan dakwah yang dilakukan Kyai Khoiron cukup persuasif. Misalnya, ketika
beliau mendapati Ketua RW tengah asyik berpesta menikmati minuman keras bersama
PSK dan Mucikari, beliau tidak langsung menegurnya baru setelah ketua RW itu
sadar, beliau akan megajaknya berdialog mengenai kebaikan dan masa depan
kampungnya. Selain itu beliau juga melakukan dialog-dialog kecil dengan para
perangkat desa, dan akhirnya mendapatkan izin untuk melakukan dakwah dan
pembinaan mental kepada para PSK dan mucikari yang ada.
2. Mitra Dakwah
Langkah awal,
beliau melakukan dialog-dialog kecil dengan tokoh masyarakat khususnya Ketua RW
(Formal) dan para preman (non-formal) agar mendapat izin untuk melakukan dakwah
dan pembinaan mental kepada para PSK dan mucikari. Tidak hanya kepada PSK dan
mucikari yang ada di lokalisasi kota Surabaya, tetapi anak-anak mereka juga
tidak luput dari sasaran dakwahnya.
Mitra dakwah
pengajian setiap hari itu berbeda-beda, bahkan ada yang dari lokalisasi lain.
Disini Kyai Khoiron mencoba untuk menyadarkan orang-orang yang menjadi mitra
dakwahnya yang ternyata kebanyakan dari mereka sebenarnya mengerti tentang
Islam, bahkan ada juga yang pandai qiroah dan tidak jarang pula terdapat mitra
dakwahnya yang menangis dan pingsan disetiap pengajiannya.
Meskipun
mereka (PSK dan mucikari), rajin mengikuti pengajiannya Kyai Khoiron, mereka
juga tetap menjalani aktivitasnya sebagai PSK dan mucikari. Disitulah kesabaran
Kyai Khoiron diuji dalam menyampaikan dakwahnya dan beliau menunjukkan
keuletannya untuk tidak putus asa dalam dakwahnya walau mitra dakwahnya tidak
memberikan perubahan yang signifikan, sehingga pengajian tersebut masih tetap
terus berjalan.
3. Metode Dakwah
Pendekatan
dakwah yang dilakukan kiai Khoiron adalah pendekatan mad’u dengan aplikasinya
melalui pendekatan pendidikan, pendekatan psikologis, pendekatan sosial,
pendekatan ekonomi dan pendekatan politis. Beliau berupaya mengubah keagamaan
mad’u tidak hanya pada tingkatan pemahaman, tetapi lebih daripada itu, yaitu
untuk mengubah sikap dan perilaku mad’u. Dalam melakukan dakwahnya beliau
menggunakan metode ceramah yang banyak diselingi humor, pengajian kitab rutin,
dan juga qiyam al-Lail (sholat malam yang dilakukan setiap malam juma’t
terakhir pada setiap bulan). Beliau juga melakukan metode konseling untuk
membantu memecahkan masalah atau mencari awal timbulnya masalah yang di
hadapinya mitra dakwahnya. Sehingga pada tahap ini terjadilah pendekatan
psikologis dan dibutuhkan rasa pengertian yang cukup tinggi untuk mengatasinya.
Pada tahun
2002-2010 dengan cara di asramakan dan diberi pelatihan keterampilan sesuai
keinginan mereka agar saat berhenti dari pekerjaannya sebagai WTS mereka sudah
mempunyai keterampilan, maka dari itu dilakukan pembinaan secara integrate
dengan menggunakan metode integratif kemudian persuasif dan solutif. Jadi
secara integratif (menyeluruh) tidak hanya mentalnya tapi juga dengan pembinaan
fisik dan ruhaninya. Secara persuasif yaitu dengan pendekatan manusiawi,
walaupun mereka seorang pelacur mereka tidak diperlakukan hina namun dengan
merangkul mereka. Kemudian solutif jadi dakwah tidak hanya bicara saja namun
juga memberikan solusi dengan cara membina mereka pelatihan keterampilan
kemudian diberi modal untuk usaha yang didukung oleh Kementrian Sosial, Pemprov
dan Pemkot Surabaya.
Dalam proses
dakwahnya KH. Khoiron bekerja dengan tim, berjejaring atau networking dengan
melakukan kerjasama dakwahnya dengan berbagai elemen antara lain, MUI Jawa
Timur, seksi kerohanian RW setempat, IDIAL MUI Jawa Timur (Ikatan Da’I Area
Lokalisai), Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Kesra Provinsi Jawa Timur, aparat
kepolisian, Dinas Sosial kota, TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) dan
beberapa elemen lainnya.
4. Media Dakwah
Media dakwah
yang digunakan oleh Ust. Ngadimin Wahab yaitu melalui non-medis secara islami
beliau sering menyembuhkan orang kesurupan dan black magic dengan menggunakan
do’a. Selain itu kiai Khoiron bersama masyarakat juga menggunakan media
pendidikan dengan cara mendirikan Taman Pendidikan AlQur’an (TPA) yang siswanya
mayoritas anak para PSK dan mucikari.pada tahun 1996-an. Hingga kini, siswa dan
siswinya berjumlah sekita 300 santri. Tiga tahun setelahnya, tepatnya pada
tahun 1999 Ia mendirikan majlis taklim yang jumlahnya mencapai 70 jamaah (Erfan
2011: online). Beliau juga menggunakan gedung bioskop sebagai tempat
pengajiannya, walaupun tidak jarang mereka harus ditontonkan film India
terlebih dahulu.
Dalam
perkembangannya para WTS juga diangkut ke Asrama Haji mewakili lokalisasinya
dan dibina di Islamic Center, di Trawas, Mojokerto, disana mereka dibina selama
4-5 hari setiap bulan Ramadhan dan diberikan materi tentang keagaamaan.
Diharapkan lewat sentuhan mental dan virtual lewat pengajian rutin dan diberi
pelatihan keterampilan dapat merubah mindset mereka. Kemudian akhirnya melalui
lembaga Forkemas dan IDIAL MUI seluruh lokalisasi se- Jawa Timur bisa ditutup.
5. Pesan Dakwah
Pesan dakwah
yang diberikan kepada mitra dakwahnya diantaranya sebagai berikut:
a. Materi tentang taubat
Dalam
berdakwah KH. Khoiron hanya mengutip ayat yang menyebutkan bahwa Allah akan
mengampuni dosa apa pun kecuali dosa syirik atau meyekutukan-Nya. Jadi, sekotor
apapun, sebesar apapun dosa manusia, selama ia tidak syirik dan menyekutukan
Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa para hamba-Nya. Ayat tersebut selalu
ia sampaikan pada saat berceramah. Sebab beliau menilai, untuk menyadarkan para
PSK dan mucikari tidak perlu ancaman atau pun pemaksaan kepada mereka. Pada
hakikatnya mereka butuh dorongan, motivasi, harapan dan keterampilan yang
tentunya hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan
proses serta kesabaran dan pendekatan secara personal terhadap mereka
b. Masalah kehidupan
Kiai Khoiron
mencoba untuk melakukan pendekatan psikologis dengan melakukan konseling untuk
membantu masalah-masalah yang dihadapi mitra dakwahnya. Beliau mencoba untuk
membantu memberikan solusi dari masalah yang dihadapi mitra dakwahnya.
c. Merubah mindset para PSK dan mucikari
Beliau juga berusaha
merubah mindset mitra dakwahnya tentang hakikat kita hidup di dunia ini bukan
hanya untuk mencari kesenangan belaka atau seputar materi saja. Beliau juga
selalu mengingatkan bahwa setiap apa yang kita kerjakan di dunia ini semuanya
akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat nanti. Kemudian mitra
dakwah juga diharapkan senantiasa
melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan menjuhkan diri dari
perbuatan-perbuatan yang buruk untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
d. Kekuatan do’a
Dengan do’a
apapun akan dikabulkan oleh Allah, memang hasilnya tidak instan tapi kita harus
senantiasa yakin, berusaha dan terus berdo’a kepada Allah karena Allah tidak
pernah ingkar pada umatnya.
e. Materi tentang kematian
Beliau juga
untuk senantiasa mengingatkan mitra dakwahnya akan kepastian kematian yang bisa
sewaktu-waktu terjadi kepada setiap manusia tanpa terkecuali. Sehingga membuat
mitra dakwahnya benar-benar takut untuk berbuat dosa hingga mereka sedikit demi
sedikit meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Mengutip dari perkataan
Bapak Gatot bahwa “Kekayaan dan kemiskinan tidak ada batasnya, tetapi umur kita
ada batasnya.
Pada intinya
pesan dakwah yang disampaikan bertujuan untuk mengajak kembali ke jalan Allah
SWT dengan cara menyadarkan secara perlahan, agar mitra dakwahnya mengubah
mindset hidupnya serta kebiasaannya di tempat lokalisasi tersebut tanpa adanya
paksaan.
6. Tantangan dalam berdakwah
Disamping itu
dalam melakukan dakwahnya adapula faktor penghambat dan tantangan pada proses
penutupan lokalisasi ini, yaitu:
a. Ancaman mental dan fisik yang datang
dari para preman dan para bodyguard mucikari.
b. Sering mendapat rayuan dan godaan dari
para WTS.
c. Mendapat cibiran, cemoohan dan hinaan
bahkan difitnah oleh sebagian masyarakat yang tidak suka terhadap usaha
dakwahnya dalam proses penutupan lokalisasi.
d. Jeratan utang piutang antara mucikari
terhadap para PSK.
e. Keterbatasan logistik dakwah (dana yang
terbatas) pada saat itu.
G. Kesan
Setelah
mengikuti kuliah lapangan ke tempat eks-lokalisasi Dolly banyak pelajaran dan
wawasan baru yang bisa saya ambil darisana yaitu :
Ikhlas
berjuang dan yakin kepada Allah SWT bahwa segala sesuatu pasti ada solusinya.
Harus ada
etika dan sopan santun saat berbisnis niatkan apapun untuk ibadah kepada Allah,
Insya Allah rejeki yang kita peroleh barokah.
Segala sesuatu tidak bisa kita dapatkan
seacara instan, semua butuh waktu. Ketika meraih sesuatu selain dengan terus
berusaha kita juga harus bersabar dalam prosesnya,
agar memperoleh hasil yang terbaik dan sesuai yang kita harapkan.
Di dunia ini
tidak seorangpun yang ingin terus hidup dengan dihantui rasa bersalah dan dosa,
ia pasti ingin kembali ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.
Seburuk apapun kelakuan kita pada zaman dahulu
Allah akan senantiasa mengampuni umatnya asalkan kita bersungguh-sungguh
bertaubat ke jalannya dan tidak menyekutukannya, tidak ada kata terlambat untuk
bertaubat.






Komentar
Posting Komentar